Sunday, November 16, 2014

Museum Pos dan Giro di Bandung

Kota Bandung banyak menyimpan bangunan-bangunan kuno yang bersejarah, justru tua dan keunikan ini dengan menyimpan gaya bangunan Belanda menjadi daya tarik banyak orang untuk berwisata di Bandung. Apalagi kalau kita berjalan di Asia Afrika atau jalan Dago makan akan kita lihat berderet-deret bangunan bekas Belanda yang unik dengan kekhasan pada jendela dan tiang-tiang betonnya.

Salah satu gedung bersejarah di kota Bandung yang dapat dijadikan alternatif tempat wisata di bandung adalah Gedung Kantor Pos Besar yang merupakan salah satu dari peninggalan masa Belanda. Museum Pos Indonesia berlokasi di Jalan Cilaki No 73, Bandung. Gedung ini berdekatan dengan Gedung Sate yang dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat.  Tepatnya ada di kanan dari Gedung Sate. Gedung ini menghadap Taman Lansia (taman orang tua). Kondisi gedung ini masih sangat baik dan kokoh.

Gedung ini dibangun pada tahun 1920 oleh Pemerintah Hindia Belanda.  Arsitekturnya sangat khas Belanda, walaupun Museum Pos Indonesia ini agak berbeda sedikit dari gaya Belanda pada umumnya karena bercampur dengan arsitektur klasik zaman Eropa Pertengahan. Pada tahun 1931 Gedung Pos Besar itu ditambah lagi dengan bangunan yang dipergunakan sebagai museum. Museum itu diberi nama Museum PTT (Pos, Telepon dan Telegraf).  Komplek gedung tua itu direnovasi dan diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Pos pada tanggal 27 September 1983, dengan nama Museum Pos dan Giro. Setelah perusahaan pos negara berubah menjadi Persero (PT) maka nama museum pun sekarang menjadi Museum Pos Indonesia.

Banyaknya pohon dan taman didekat gedung tua ini membuat suasana sejuk dan nyaman. Halaman depan gedung cukup luas di depannya ada taman. Di kanan dan kiri gedung ada bagunan yang lebih kecil dan rendah.

Di dalam Gedung Kantor Pos Besar ini ada Museum Perangko yang banyak didatangai oleh pelajar dari berbagai negara. Tersimpan koleksi benda pos, dari perangko dalam negeri hingga perangko dunia. Perangko dari sejak abad 10 sampai perangko modern saat ini. Bagi yang suka koleksi perangko sangat tepat datang ke tempat ini. Perangko pertama di nusantara diproduksi tahun 1864 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ribuan koleksi filateli bisa anda temukan disini. Perangko-perangko disusun dengan rapi dalam sejenis lemari yang dinamakan vitrin. Vitrin adalah papan-papan yang disatukan itu seperti lemari kayu dengan ukuran 1,5 meter x 1 meter x 2,5 meter.

Bayangkan saja koleksi perangko di museum di Kota Kembang ini berasal dari 178 negara. Bahkan negara yang sudah tidak adapun seperti Uni Soviet dan Prusia pun ada!. Koleksi ini sangat tinggi nilainya karena sejarah dan kelangkaannya. Selain itu kita juga bisa membayangkan budaya pada masa lalu ketika perangko itu masih digunakan, karena dalam perangko itu tergambar berbagai artifak seni yang berharga, mulai photo kepala negara, raja-raja, simbol-simbol negara, gambar rakyat jelata, petani, pemandangan alam pada masa lalu dan sebagainya. Kita bisa lihat prangko pertama di dunia, "The Penny Black". Prangko ini aslinya terbit tahun 1840 di Inggris dengan gambar kepala Ratu Victoria. Ada juga prangko berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III itu diterbitkan Pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1864.

Kita juga bisa menilai cara berpikir, cara berpemerintahan, teknologi yang ada dan sebagainya. Jadi dari filateli ini tidaklah sesederhana berupa selembar kertas kecil bercetakan saja tetapi sebenarnya jauh dari itu. Dari filateli kita bisa meneropong budaya masa lalu dan juga bangsa lain. Sebagai contoh pada perangko kita masa orde baru yang perangkonya banyak menggambarkan tokoh figur Soeharta ini bisa menjadi bukti masa itu Pemerintahan kita terlalu terfokus pada satu figur, tetapi setelah masa reformasi perangko di Indonesia sudah banyak menggamarkan petani, burung, tarian dan sebagainya ini bisa menjadi bukti bahwa budaya setelah reformasi lebih luas dan bervariasi dalam membuat ikon.

Selain koleksi berupa perangko di museum ini juga ada berbagai peralatan pos dan giro.  Peralatan pos tesebut berasal dari dari berbnagai abad. Seperti model bus-bus pos dari masa lalu sampai sekarang. Model untuk bus-bus di Eropa dan Asia juga ada. Peralatan seperti berbagai palu untuk mencap pos surat. Berbagai model kotak surat dan sebagainya.

Untuk menuju Gedung Pos Besar Bandung ini sangat mudah sekali, kita bisa tanyakan kemana arah Lapangan Gasibu atau Gedung Sate ini banyak akses menuju kesana. Jalan kaki dari Gedung Sate tidak jauh hanya 5 menit saja karena memang dekat dan satu komplek. Bagi yang ingin melihat koleksi filatelis di Museum Pos Indonesia ini silahkan datang jika sedang bertandang ke Bandung. Buka hari Senin sampai Sabtu.

Museum ini dapat dijadikan alternatif tempat wisata sejarah di kota Bandung. Museum ini satu-satunya museum dengan tema fillateli di asea tenggara. Walaupun jasa kirim surat-menyurat sudah jarang di gunakan saat ini, kita tentunya harus belajar mengenai kondisi surat-menyurat di masa lampau. Dan dengan berwisata ke museum pos dan giro di kota Bandung inilah, salah satunya kita dapat mempelajari kondisi berkirim surat-menyurat dari tahun ke tahun.

Museum ini layak sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berwisata ke kota Bandung. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan museum ini, namun dengan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, meseum ini musti menjadi dalah satu tempat yang layak dikunjungi ketika berwisata di kota Bandung.

No comments:

Post a Comment