Monday, November 17, 2014

Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Museum Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu museum yang berada di kota Bandung. Terletak di Jl.Asia Afrika No.65. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika. Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Secara keseluruhan Gedung Merdeka memiliki dua bangunan utama, yang pertama disebut Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama, sedangkan yang berada di samping Gedung Merdeka adalah Museum Konferensi Asia Afrika sebagai tempat memorabilia Konferensi Asia Afrika. Latar belakang dibangunnya museum ini adalah adanya keinginan dari para pemimpin bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mengetahui tentang Gedung Merdeka dan sekitarnya tempat Konferensi Asia Afrika berlangsung. Hal ini membuat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M memiliki ide untuk membangun sebuah museum. Ide tersebut disampaikannya pada forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian museum ini diresmikan pada tanggal 24 April 1980 bertepatan dengan peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika.

A. Sejarah Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 sampai dengan 24 April 1955 mencapai kesuksesan besar, baik dalam mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa-bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. Konferensi ini melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Kesuksesan konferensi ini tidak hanya tampak pada masa itu, tetapi juga terlihat pada masa sesudahnya, sehingga jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya sejarah dunia.

Semua itu merupakan prestasi besar yang dicapai oleh bangsa-bangsa Asia Afrika. Jiwa dan semangat Konferensi Bandung telah berhasil memperbesar volume kerja sama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika, sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam hubungan percaturan internasional meningkat dan disegani.

Dalam rangka membina dan melestarikan hal tersebut, adalah penting dan tepat jika Konferensi Asia Afrika beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka di Kota Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika. Sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., sering bertemu muka dan berdialog dengan para pemimpin negara dan bangsa Asia Afrika. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut beliau sering mendapat pertanyaan dari mereka tentang Gedung Merdeka dan Kota Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Berulang kali pembicaraan tersebut diakhiri oleh pernyataan keinginan mereka untuk dapat mengunjungi Kota Bandung dan Gedung Merdeka.

Terilhami oleh hal tersebut serta kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika, maka lahirlah gagasan beliau untuk mendirikan Museum Konperensi Asia Afrika di Gedung Merdeka ini. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri antara lain Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata gagasan itu mendapat sambutan baik, termasuk dari Presiden RI Soeharto. Gagasan pendirian Museum Konperensi Asia Afrika diwujudkan oleh Joop Ave sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, bekerja sama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT. Decenta, Bandung. Museum Konperensi Asia Afrika diresmikan berdirinya oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 24 April 1980 sebagai puncak peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika.

B. Nama, Status dan Sifat Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Museum ini bernama Museum Konferensi Asia Afrika. Nama tersebut digunakan untuk mengenang peristiwa Konferensi Asia Afrika yang menjadi Sumber inspirasi dan motivasi bagi bangsa Asia-Afrika. Museum ini dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia dan berada di bawah wewenang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara pengelolaannya di bawah koordinasi Departemen Luar Negeri dan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat.

Pada 18 Juni 1986, kedudukan Museum Konferensi Asia-Afrika dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Departemen Luar Negeri di bawah pengawasan Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri. Pada Tahun 2003 dilakukan restrukturisasi di Tubuh Departemen Luar Negeri dan Museum Konferensi Asia Afrika dialihkan ke Ditjen Informasi, Diplomasi Publik dan Perjanjian Internasional (Sekarang Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik). Saat ini UPT Museum Konferensi Asia Afrika berada dalam koordinasi Direktorat Diplomasi Publik. Museum ini menjadi museum sejarah bagi perjuangan politik luar negeri Indonesia.

C. Penataan Kembali Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung

Dalam rangka Konferensi Tingka
t Tinggi Asia Afrika 2005 dan peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika 1955, pada 22-24 April 2005, tata pameran Museum Konferensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar NEgeri dengan sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vasco Design dan Wika Realty.

Sunday, November 16, 2014

Berwisata di Taman Cikapayang Bandung

Bandung yang merupakan ibu kota provinsi Jawa Barat memang sedang membenahi taman-taman kota yanhg ada di dalamnya. Taman kota ini, selain berfungsi sebagai ruang publik hijau, taman-taman ini juga dapat menjadi sebagai tujuan tempat wisata di bandung. Salah satu dari sekian banyak taman di bandung yang apat dijadikan sebagai tempat wisata di bandung adalah Taman Cikapayang.

Taman ini berlokasi di perempatan cikapayang Jl. Ir. H. Juanda (Dago). Pemandangan yang menarik dari taman yang berada tepat di bawah flyover Pasopati ini adalah 4 huruf D-A-G-O berukuran besar yang menjadi icon dari taman ini. Taman Cikapayang ini cukup hidup dan sering dipakai tempat berkumpul, terutama oleh anak-anak muda. Kegiatannya beragam, mulai dari tempat latihan para skaters hingga sekedar nongkrong dan berfoto di huruf D-A-G-O.

Taman ini akan terlihat ramai di hari minggu, di hari ini lah di kawasan Taman Cikapayang berlaku car free day, dimana tidak diperbolehkan melintasnya mobil di JL. Ir. H. Juanda (dago). Walaupun masih terlihat beberapa kendaraan bermotor yang melintas di daerah ini, namun tidak sebanyak kendaraan bermotor di hari-hari biasa. Demikian karena masih banyaknya mental dari masyarakat yang tidak mentaati peraturan pemenrintah. Terutama khususnya mereka pendatang yang datang ke kota Bandung karena tidak mengetahui adanya car free day di sekitaran jalan Dago di hari Minggu. Di hari ini banyak berkumpul komunitas-komunitas yang ada di bandung. Dengan pusat kegiatannya di sekitaran Taman Cikapayang.

Taman Cikapayang juga sering dijadikan pusat kegiatan disaat ada Festival di kota Bandung. Contohnya saja festifval Dago dan acara HUT Kota Bandung. Taman ini menjadi ramai.

Taman Cikapayang dapat dijadikan alternatif sebagai Tempat Wisata di Bandung. Disini anda dapat berfoto-foto di sekitaran lokasi. Disamping itu, banyak tujuan wisata kuliner dan belanja di sekitaran taman ini.

Angkutan umum yang melewati Taman Cikapayang:
  • Angkot Kalapa – Dago dari kedua arah
  • Angkot Caringin – Dago dari kedua arah
  • Angkot Dago – Stasiun Hall dari kedua arah

Museum Pos dan Giro di Bandung

Kota Bandung banyak menyimpan bangunan-bangunan kuno yang bersejarah, justru tua dan keunikan ini dengan menyimpan gaya bangunan Belanda menjadi daya tarik banyak orang untuk berwisata di Bandung. Apalagi kalau kita berjalan di Asia Afrika atau jalan Dago makan akan kita lihat berderet-deret bangunan bekas Belanda yang unik dengan kekhasan pada jendela dan tiang-tiang betonnya.

Salah satu gedung bersejarah di kota Bandung yang dapat dijadikan alternatif tempat wisata di bandung adalah Gedung Kantor Pos Besar yang merupakan salah satu dari peninggalan masa Belanda. Museum Pos Indonesia berlokasi di Jalan Cilaki No 73, Bandung. Gedung ini berdekatan dengan Gedung Sate yang dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat.  Tepatnya ada di kanan dari Gedung Sate. Gedung ini menghadap Taman Lansia (taman orang tua). Kondisi gedung ini masih sangat baik dan kokoh.

Gedung ini dibangun pada tahun 1920 oleh Pemerintah Hindia Belanda.  Arsitekturnya sangat khas Belanda, walaupun Museum Pos Indonesia ini agak berbeda sedikit dari gaya Belanda pada umumnya karena bercampur dengan arsitektur klasik zaman Eropa Pertengahan. Pada tahun 1931 Gedung Pos Besar itu ditambah lagi dengan bangunan yang dipergunakan sebagai museum. Museum itu diberi nama Museum PTT (Pos, Telepon dan Telegraf).  Komplek gedung tua itu direnovasi dan diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Pos pada tanggal 27 September 1983, dengan nama Museum Pos dan Giro. Setelah perusahaan pos negara berubah menjadi Persero (PT) maka nama museum pun sekarang menjadi Museum Pos Indonesia.

Banyaknya pohon dan taman didekat gedung tua ini membuat suasana sejuk dan nyaman. Halaman depan gedung cukup luas di depannya ada taman. Di kanan dan kiri gedung ada bagunan yang lebih kecil dan rendah.

Di dalam Gedung Kantor Pos Besar ini ada Museum Perangko yang banyak didatangai oleh pelajar dari berbagai negara. Tersimpan koleksi benda pos, dari perangko dalam negeri hingga perangko dunia. Perangko dari sejak abad 10 sampai perangko modern saat ini. Bagi yang suka koleksi perangko sangat tepat datang ke tempat ini. Perangko pertama di nusantara diproduksi tahun 1864 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ribuan koleksi filateli bisa anda temukan disini. Perangko-perangko disusun dengan rapi dalam sejenis lemari yang dinamakan vitrin. Vitrin adalah papan-papan yang disatukan itu seperti lemari kayu dengan ukuran 1,5 meter x 1 meter x 2,5 meter.

Bayangkan saja koleksi perangko di museum di Kota Kembang ini berasal dari 178 negara. Bahkan negara yang sudah tidak adapun seperti Uni Soviet dan Prusia pun ada!. Koleksi ini sangat tinggi nilainya karena sejarah dan kelangkaannya. Selain itu kita juga bisa membayangkan budaya pada masa lalu ketika perangko itu masih digunakan, karena dalam perangko itu tergambar berbagai artifak seni yang berharga, mulai photo kepala negara, raja-raja, simbol-simbol negara, gambar rakyat jelata, petani, pemandangan alam pada masa lalu dan sebagainya. Kita bisa lihat prangko pertama di dunia, "The Penny Black". Prangko ini aslinya terbit tahun 1840 di Inggris dengan gambar kepala Ratu Victoria. Ada juga prangko berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III itu diterbitkan Pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1864.

Kita juga bisa menilai cara berpikir, cara berpemerintahan, teknologi yang ada dan sebagainya. Jadi dari filateli ini tidaklah sesederhana berupa selembar kertas kecil bercetakan saja tetapi sebenarnya jauh dari itu. Dari filateli kita bisa meneropong budaya masa lalu dan juga bangsa lain. Sebagai contoh pada perangko kita masa orde baru yang perangkonya banyak menggambarkan tokoh figur Soeharta ini bisa menjadi bukti masa itu Pemerintahan kita terlalu terfokus pada satu figur, tetapi setelah masa reformasi perangko di Indonesia sudah banyak menggamarkan petani, burung, tarian dan sebagainya ini bisa menjadi bukti bahwa budaya setelah reformasi lebih luas dan bervariasi dalam membuat ikon.

Selain koleksi berupa perangko di museum ini juga ada berbagai peralatan pos dan giro.  Peralatan pos tesebut berasal dari dari berbnagai abad. Seperti model bus-bus pos dari masa lalu sampai sekarang. Model untuk bus-bus di Eropa dan Asia juga ada. Peralatan seperti berbagai palu untuk mencap pos surat. Berbagai model kotak surat dan sebagainya.

Untuk menuju Gedung Pos Besar Bandung ini sangat mudah sekali, kita bisa tanyakan kemana arah Lapangan Gasibu atau Gedung Sate ini banyak akses menuju kesana. Jalan kaki dari Gedung Sate tidak jauh hanya 5 menit saja karena memang dekat dan satu komplek. Bagi yang ingin melihat koleksi filatelis di Museum Pos Indonesia ini silahkan datang jika sedang bertandang ke Bandung. Buka hari Senin sampai Sabtu.

Museum ini dapat dijadikan alternatif tempat wisata sejarah di kota Bandung. Museum ini satu-satunya museum dengan tema fillateli di asea tenggara. Walaupun jasa kirim surat-menyurat sudah jarang di gunakan saat ini, kita tentunya harus belajar mengenai kondisi surat-menyurat di masa lampau. Dan dengan berwisata ke museum pos dan giro di kota Bandung inilah, salah satunya kita dapat mempelajari kondisi berkirim surat-menyurat dari tahun ke tahun.

Museum ini layak sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berwisata ke kota Bandung. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan museum ini, namun dengan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, meseum ini musti menjadi dalah satu tempat yang layak dikunjungi ketika berwisata di kota Bandung.

Saturday, November 15, 2014

200 Agenda Festival Meriahkan Bandung 2014



SEBANYAK 200 festival akan digelar di Kota Bandung sepanjang 2014 mendatang sebagai upaya target mendatangkan wisatawan 2-3 kali lipat dibandingkan tahun 2013.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Erlan Joerliawan Soemardi di Bandung, Rabu (1/1/). "Dalam rancangan sudah disebutkan, minimal ada 200 festival sepanjang tahun 2014, sifatnya festival terencana," tegasnya.

Dia menyebutkan, pertumbuhan jumlah festival secara drastis tahun ini dilakukan untuk memasarkan pengembangan wisata Kota Bandung, dan mengenalkan seni budaya Kota Bandung kepada wisatawan lokal dan mancanegara.

"Selain bersumber dari APBD Kota Bandung, sumber dana festival juga akan berasal dari pihak swasta. Dananya secara detail belum dihitung,

karena akan ada juga share dari swasta, yang pasti untuk semakin meneguhkan bahwa Bandung sebagai kota kreatif," paparnya.

Erlan menambahkan, adanya pertumbuhan festival tersebut juga diperkirakan akan memunculkan jumlah wisatawan yang jauh lebih besar daripada tahun sebelumnya.

"Targetnya ya sebanyak-banyaknya, itu juga akan semakin menjalankan roda pariwisata, dan akan sejalan dengan perbaikan infrastruktur," katanya.

Jika dirata-ratakan, dengan target minimal 200 festival setiap tahun, minimal ada 16 festival setiap bulan, atau 4 festival setiap minggu.

"Memang tidak semuanya skala besar, melainkan ada di setiap kelurahan dan kecamatan, intinya bersifat memberikan hiburan kepada masyarakat," paparnya.

Dia juga mengatakan, definisi festival itu juga berlaku untuk pemutaran layar tancap di kelurahan atau kecamatan di Kota Bandung.

"Kampung wisata yang merupakan wilayah unggulan juga ditargetkan akan terwujud 30 kampung, kemudian ada pemberdayaan gedung padepokan seni mayang sunda, itu juga akan berpengaruh pada kuantitas dan kualitas festival yang akan berlangsung," tuturnya.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menuturkan bahwa hal tersebut penting, karena penyelenggaraan festival menjadi tolak ukur peradaban masyarakat.

"Semakin tinggi peradabannya, semakin banyak pula festival yang diselenggarakan, karena semakin banyak hal-hal yang ingin diperlihatkan," ucap Ridwan.

Apalagi, sambung dia, penyelenggaraan event tersebut juga memperkuat identitas Kota Bandung, yaitu akulturasi pelestarian budaya tradisional dan budaya kekinian.

"Intinya melakukan re-inventing budaya. Selama merangkul seniman yang selama ini seringkali kurang dimunculkan, kami mendukung," imbuhnya.

Ridwan menegaskan, dalam waktu dekat akan meratifikasi festival yang ada di Kota Bandung, dengan kategori bintang satu hingga bintang lima. Diferensiasi tersebut akan menentukan sejauh mana dukungan yang akan diberikan.

Tempat Wisata Alam Bandung yang Wajib Anda Kunjungi



Jika Anda mau ke Bandung, jangan lewatkan tempat-tempat wisata Alam ini. Karena sangat menarik bagi wisatawan lokal maupun asing, so jangan dilupakan.

Berikut ini tempat wisata yang digolongkan berdasarkan area wilayah di Bandung sehingga memudahkan Anda menempuh perjalanan sehingga tidak bolak-balik, maklum Bandung sekarang musimnya macet, apalagi saat weekend.

 
WISATA BANDUNG UTARA

1. Air Terjun Maribaya
Wisata air ini sangat ramai, apalagi saat weekend. Letaknya sebelah timur Lembang. Dari Lembang anda bisa mengambil jalan ke kanan sekitar 7 kilo maka Anda akan sampai ke wisata Maribaya.

2. Tangkuban Perahu
Tempat wisata ini merupakan menu wajib bagi wisatawan yang mau berkunjung ke Bandung. Sekitar 7 kilo meter arah utara Lembang. Anda bisa berdingin ria bersama kabut yang menyelimuti gunung Tangkuban Perahu.

3. Ciater
Merupakan Air Panas, letaknya utara Tangkuban Perahu. Setelah dari Tangkuban, Anda bisa meluncur ke arah Subang untuk berendam di Airpana Ciater.

4. Kebun Teh 
Sering kali wisatawan melepas penat di perkebunan Teh utara Tangkuban Perahu, sambil menikmati teh hangat atau ketan bakar serta Nanas Madu yang manis.


WISATA BANDUNG TIMUR

1. Curug Cinulang
Sebuah Curug yang ada di Cicalengka, sekitar 20 km dari kota Bandung. Dari Cicalengka ambil arah utara sekitar 7 kilo Anda akan menjumpai curug atau air terjun Cinulang. Ramai sekali jika musim liburan.

2. Wisata Hutan Kareumbi
Merupakan eco wisata yang ada di Cicalengka utara. Dpaat dilalui setelelah melewati Curug Cinulang sekitar 5 kilo lagi. Bisa bermain di hutan Karembi bahkan tersedia rumah pohon. Cocok untuk anda dan keluarga

3. Situs Batu Kuda
Batu kuda adalah wisata Alam yang terletak di Bandung Timur, dapat ditempuh dari Cinunuk - Cibiru naik ke atas. Disana anda bisa bikin kemah atau sekedar melepas penat sambil melihat kota Bandung dari lereng Gunung Manglayang.


WISATA BANDUNG BARAT

1. Bendungan Cirata
Bendungan Cirata adalah bendungan yang ada dikawasan Bandung Barat. Bisa dicapai sekitar 20 km dari kota Bandung lewat arah Padalarang - Purwakarta. Anda bisa melepas lelah disana sambil makan nasi liwet dan naik perahu keliling bendungan sambil lihat keramba ikan.

2. Situ Ciburuy
Situ Ciburuy ada di Padalarang, dekat terminal. Situnya tidaklah terlalu besar, kita bisa sewa perahu untuk keliling danau bersama keluarga.

3. Curug Cimahi
Curug Cimahi ada di Cimahi Utara, merupakan Curug yang berada tepi jalan, namun untuk mencapainya kita harus menuruni tangga ke lembah. Sehat dan menyegarkan

4. Bendungan Saguling
Bendungan Sahuling ada di Bandung Barat, bisa dicapai dari Batu Jajar ambil arah Cililin. Disana anda bisa naik perahu sekalian cari wajik Cililin yang terkenal itu.


WISATA BANDUNG SELATAN

1. Kawah Putih
Merupakan wisata legendaris di Bandung, banyak yang melakukan pre wedding di tempat ini karena indahnya. Bisa ditempuh dari Ciwidey arah Patengan, kemudian ambil jalan masuk kiri. Kalau bisa mobil taruh di bawah saja, habis kalau dibawa naik tarifnya gila-gilaan. he he he

2. Rancaupas
Merupakan wisata alam untuk bumi perkemahan, ditempat ini bisa lihat hutan alam dan peternakan rusa. Cocok buat refreshing bersama keluarga.

3. Wisata Air Panas
Disekitar perjalanan arah Ciwidey - Situ Patengan banyak sekali wisata air panas, anda bisa berendam disana untuk melepas penat.

4. Situ Patengan
Sebuah bendungan dikawasan Bandung selatan yang perlu Anda kunjungi sambil menikmati indahnya kebun teh yang dingin. Diana anda bisa naik perahu keliling bendungan sambil menikmati indahnya kebun teh yang kadang sering diselimuti kabut.

5. Cibolang Pangalengan
Sebuah sumber air panas yang mana bisa kita gunakan merendam diri. Untuk mencapai Cibolang anda perlu menempuh 40 kiloan ke arah Pangalengan Bandung Selatan.

6. Situ Cileunca
Merupakan bendungan yang ada di Pangalengan Bandung selatan, anda bisa berkemah atau naik perahu keliling danau sambil petiks strowbery.

7. Wisata Gunung Puntang
Merupakan tempat wisata nan dingin yang sering digunakan untuk bumi perkemahan. Sangat asyik jika dikunjungi bersama keluarga.Untuk mencapainya anda perlu mengambil arah Bandung - Banjaran. Dari Banjaran ambil arah Pangalengan sekitar 5 kilo maka anda bisa masuk kekiri ke arah Gunung Puntang.

Inilah tempat-tempat wisata alam yang perlu anda kunjungi. Jangan lewatkan

Kampung Seni Manglayang, Kenalkan Budaya Sunda



Ingin mengenal lebih banyak soal kebudayaan Sunda? 
Kampung Seni dan Wisata Manglayang, bisa menjadi salah satu rujukan.

Bukan hanya keasrian alamnya, pengunjung ke kawasan yang berada di Jalan Jalan Cijambe-Cibolerang, Kampung Cibolerang Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung ini bisa belaja seni budaya melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya serta pemberian materi secara langsung.

Sayangnya, kampung seni dan wisata seluas 1,2 hektare itu vakum. Padahal sejak diresmikan pada 2007 lalu, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. "Situasi dan kondisi yang mendorong untuk kita memvakumkan sejak dua tahun yang lalu," kata Ria Dewi Fajaria yang bersama suaminya, Abah Kawi mendirikan Kampung Seni dan Wisata Manglayang, beberapa waktu lalu.

Meski dibangun sendiri oleh pemiliknya, lahan itu tampak tetap layak untuk dikunjungi para wisatawan yang datang ke Bandung. Meski terlihat kosong, beberapa saung masih berdiri kokoh. Bahkan, di sana lengkap dengan sarana peribadatan khas perkampungan.

Di tengah kampung, terdapat sebuah panggung terbuka. Selain panggung, ada juga tembok barisan untuk para penonton. Ada juga panggung beratap rumbia namun tetap tak bertembok. Sekian banyak saung itu masing-masing dihubungkan dengan jalan setapak berupa barisan batu templek yang disusun rapi. Jadi, jangan khawatir ada genangan air jika turun hujan. Rimbunnya pepohonan menambah asri kawasan.

Di Kampung Seni dan Wisata Manglayang itu, wisatawan dapat mencicipi berbagai aneka panganan khas Sunda. Mulai dari lotek, keripik singkong, peuyeum, hingga rangginang disediakan warga sekitar.
Pengunjung bisa mendatangi kawasan ini setiap hari. Jika datang dengan rombongan dan diagendakan, pada Senin-Sabtu itu pengelola menyediakan waktu untuk memberikan materi seni dan kebudayaan. Setiap akhir pekan digelar berbagai pertunjukan hiburan Sunda mulai dari pukul 20.00 WIB hingga larut malam.

Agar tak membosankan, setiap pekan itu pertunjukan yang digelar berbeda-beda. Ada wayang golek, pertunjukan seni benjang, tari jaipongan, hingga pertunjukan perpaduan seni tradisional dan modern seperti nyanyian pop Sunda.

Kawasan wisata budaya ini memang tepat untuk dikunjungi bersama keluarga dan rombongan. Selain bermain, anak-anak pun dapat menambah pengetahuan mengenai kebudayaan Sunda. Berbagai dolanan tradisional dimainkan di tempat ini. Seperti egrang, gasing kayu, karet gelang, bebedilan yang menggunakan senjata bambu dengan peluru kertas basah pun dapat dicoba di tempat ini.

Beberapa rumah panggung dengan dinding bambu dan beratap rumbia pun ada di kampung ini. Saung itu memiliki fungsi khusus. Misalnya saung kamonesan yang berisi benda-benda menarik, seperti topeng dan wayang golek. Lalu, di saung lisung terdapat alat tradisional yang biasa digunakan untuk menumbuk padi.

Alasan lain yang menyebabkan ditutupnya kampung itu, kata Ria, karena Abah Kawi kini melanjutkan pendidikan S3-nya di ISI Yogyakarta. Ria menyebutkan, sejak awal pendirian kampung itu memang bukan uang yang menjadi tujuan. Untuk bisa masuk saja, kata dia, pengunjung tidak harus membayar tiket sebagaimana tempat wisata lainnya.

"Untuk membangun puluhan saung yang ada di sini dan biaya perawatan itu kita tanggung dengan uang sendiri. Dan dari awal, kita membangung kampung ini bukan untuk mencari uang, tapi berkreativitas," tuturnya yang meyakini kekuatan seni itu ajaib.

Selain itu, karena banyak pihak yang berkunjung ke tempatnya kini telah banyak 'kloningan'. Satu di antaranya berada tak jauh dari tempatnya. Kampung serupa pun kini dibangun di Tangerang, Cilacap, Banten, Kutai, hingga Malaysia.

"Jadi, sekali lagi, Kampung Seni dan Wisata Manglayang yang di sini itu dihentikan. Kalau ada yang mau berkunjung ke tempat lain dan kebetulan kampung seni yang berada di atas yang sudah dibangun, silakan ke sana," ucap Ria sambil tersenyum. [rni]

Sumber : inilahkoran.com